Segarnya air Danau Singkarak

Lebaran tahun ini, saya merasa senang sekali karena berbeda dengan lebaran sebelum-sebelumnya. Ini adalah mudik kali pertama saya ke Surga Rendang. Yap betul! Kota Padang namanya.Perjalanan saya saat pergi menggunakan Bis antar provinsi yang melaju sangat cepat. Dengan medan yang bikin ngeri, naik turun gunung, sebelah kiri jurang sebelah kanan tebing, ah rasanya saya jadi nggak mau nengok ke luar jendela deh. Sepanjang jalan yang kelihatan selalu hutan belantara, ada pemukiman dan rest area dan itupun masih bisa dihitung jari. Ya iyalah, kan ini Sumatera. Masih banyak hutannya, memangnya mudik ke Tasik, yang kanan kiri banyak warung oleh-oleh ? 😀 #efekkeseringanmudiknyakeTasik

Sepanjang jalan memang agak serem sih buat pendatang baru seperti saya. Apalagi di tengah jalan bis kami sempat ada yang melempari batu. Bis berhenti dan disitu saya gemeteran banget. Oalah kenapa coba mesti berhenti ? Mana saat itu masih pukul 02.00 dini hari. Kalo pas kita berhenti trus ada begal keluar dari persembunyiannya gimana ? Begal dateng terus naik ke atas bis trus malakin kita, nodong para penumpang dengan senjata tajam ? Waaahhh isi di dalam otak udah mulai kacau. Setelah bis kembali tancap gas, saya memilih buat tidur aja biar nggak panik. Dan si kecil akhirnya saya serahkan kepada ayahnya. Kita rolling shift dulu lah ya. Ga mau deh liat-liat hal yang kaya tadi lagi, mending bobo syantiek aja.

Perasaan saya tidur baru sebentar, tapi mantan kekasih udah colek-colek aja, ngebangunin saya bilangnya udah mau nyampe, bentar lagi turun. Yeay! Akhirnya saya sampe juga di kota Padang. Saat itu kita tiba sekitar pukul 05.00 dan langsung turun di Rumah Sakit Umum Daerah Padang Panjang karena Datuk dari sang Suami alias kakek sang suami sedang sakit.

Kami beristirahat di rumah sakit sambil menunggu siang. Sekitar pukul 09.00 kita bersiap pulang ke rumah. Ayah mertua mencarikan angkutan umum untuk kami.

Setibanya di kampung halaman suami, udara dingin pegunungan langsung menusuk tulang. Semilir angin dari pesawahan bikin baju saya berkibar-kibar kaya bendera. Hijab saya pun terkibas-kibas angin, aaaahhh serasa lagi jadi model iklan gicuuuuhh 🙂

Nengok ke sekeliling, subhanallah indahnyaaa. Rasanya mata nggak mau berkedip. Hawanya sama pemandangannya bikin hati tenang. Di depan rumah ada petak sawah, belakang rumah ada petak sawah dan kolam ikan, kiri kanan juga sawah, lalu saat lihat ke arah bawah kelihatan di seberang jalan ada Pasar Malalo dan di seberangnya pasar ada Danau. Iyes pemirsah, itu Danau Singkarak. Danau Singkarak keliatan langsung dari rumah. Rasanya jadi pengen lari kesana trus nyebur, mana tahan sih liat air sebanyak itu dianggurin ?
Kaya gini nih pesona pemandangan dari depan rumah.

Sayangnya, foto pemandangan yang menghadap Danaunya hilang karena kemaren HPnya di service, daaann foto semua hilang. Ahh, depresi berat!

Satu hari setelah hari raya saya diajak sama suami dan adiknya juga keponakannya untuk mandi di danau. Horee akhirnya terlaksana juga hasrat yang dari kemaren pengen ke danau, hihi. Kita meluncur dengan motor menuju rumah kakak ipar, soalnya tempat yang asik buat berenang adalah di belakang rumah kakak ipar. Ya udahlah yah dimana aja saya mah ngikut aja yang penting berenang. Selama perjalanan ke danau, ni kepala saya udah penuh sama pertanyaan. Biasa laah, pertanyaan standar orang yang baru mengunjungi Singkarak. Airnya dingin nggak yah ? Asin nggak kalo nanti keminum? Sejernih apa sih airnya ? Terus kalo nanti mandi, ikan Bilisnya bakal keliatan nggak yah? Sudahlah, kita lihat aja nanti.

Cuma 5 menit jalan kaki dari rumah kakak ipar untuk numpang parkir motor, dan sampailah kita di pinggir danau tempat biasa mereka berenang. Wuiiihhh airnya emang bener-bener jernih ternyata. Tenaaaang banget, bikin betah ngeliatnya. Pas kaki mulai masuk ke air, cesssss, sejuk banget. Sejuknya sampe ke dalam hati, ceileh lebay. Hahaha. 

Semua pertanyaan yang membludak di kepala tadi, sekarang udah kejawab semuanya. Airnya sejuk, bahkan udah berlama-lama main air disini nggak bikin menggigil kaya lagi berenang di kolam renang. Mungkin karena nggak pake kaporit dan ini air alam, jadi rasanya bikin seger ke badan.

Kayanya nggak afdol kalo nggak berenang kan ? Dikit-dikit saya jalan dan mulai masukin kepala ke dalam air. Dasar danaunya keliatan, sebetulnya tanpa masukin kepala ke air juga udah keliatan dasarnya, tapi saya penasaran pengen liat ikan bilisnya, makanya saya sok nyelam gitu. Kerikilnya banyak, nggak banyak lumpur, tapi harus hati-hati juga kalau berenang. Soalnya banyak juga pecahan botol dan beling yang dibuang kesini sama penduduk. Sambil mandi sambil liat pemandangan indah kaya gini, cuma bisa bilang dalam hati ” Ya Allah, ini sih cantiknya kebangetan” sambil terus aja ngucapin Subhanallah. Ciptaan Allah emang nggak ada yang bisa nandingin deh. 

Narsis mode on pun udah dimulai. Rasanya sayang banget kalau pemandangan seindah ini nggak diabadikan sebagai kenang-kenangan. Akhirnya dapetlah beberapa jepretan saat lagi mandi di Danau Singkarak.


Pas udah foto-foto, saya mau coba berenang ke tengah tapi hati masih was-was. Secara gitu yah ini tuh Danau, bukan kolam renang. Dasarnya aja kita nggak tau berapa meter dalamnya dan ada apa aja di dalam sana. Baru juga beberapa senti berenang, liat warna dasar danau mulai menghitam karena agak dalam, balik lagi ajaaaa cari aman. Suami aja sampe bilang “saya aja yang orang turunan darah sini belom berani buat berenang ke tengah”. Ah si Uda mah bikin makin takut aja. Ya udah, saya cukup menikmati air danaunya dari pinggirnya aja.

Ngomongin tentang berenang di Danau Singkarak, jadi inget sama mitos tentang Danau Singkarak. Menurut cerita yang beredar, kalau hari raya jatuh di Hari Jumat, tidak boleh ada yang berenang atau melakukan aktivitas di Danau Singkarak. Karena menurut beberapa orang yang memiliki kepercayaan bahwa saat hari Raya jatuh di Hari Jumat, diantara 2 khutbah (khutbah sholat ied dan khutbah sholat Jumat) para penghuni air danau sedang melakukan pesta. Jika ada orang yang melakukan aktivitas di danau, maka orang tersebut akan tenggelam. Bahkan mitos ini sudah terjadi 2x. Saat hari raya jatuh di hari Jumat, ada rombongan wisata dari luar kota Padang. Mereka melakukan kegiatan di danau sepertu berenang dan memancing menggunakan perahu. Setibanya rombongan di tengah, perahu mereka tiba-tiba terbalik dan terbawa arus yang berputar seperti menyedot masuk ke dalam danau. Perahu dan para rombongan pun tenggelam dan tidak ditemukan selama 3 minggu pencarian oleh para warga sekitar dan pihak kepolisian setempat. Salah seorang tetua pun akhirnya memutuskan untuk melakukan negosiasi dengan penghuni Singkarak dan meminta untuk melepaskan rombongan yang hilang agar dapat segera ditemukan. Setelah negosiasi terlaksana, sang tetua pun melaksanakan ritual yang telah disepakati, tak lama dari itu jenazah para rombongan pun ditemukan di permukaan tepat di lokasi pusaran air yang menenggelamkan mereka. Namun anehnya, ada beberapa orang yang selamat, sisanya meninggal dunia. Mereka yang selamat itu ternyata warga asli Singkarak. Mereka masih hidup tanpa luka sedikitpun walau sudah hilang selama 3 minggu. Sejak saat itu banyak orang percaya jika para pendatang atau wisatawan ingin berenang, sebelum berenang di Danau, minumlah sedikit air danau itu agar air danau mengalir di tubuh dan orang yang meminumnya sudah dianggap menjadi warga asli Singkarak. Begitulah mitos dan cerita yang beredar tentang Danau Singkarak. Semua kembali kepada diri kita, harus bisa menjaga sikap dan menjaga perkataan dimanapun kita berada. Mereka penghuni Singkarak pasti tidak mau tempatnya dikotori oleh perbuatan atau sikap kita sebagai tamu mereka.


Kembali ke cerita berenang di Danau tadi yaa. Banyak orang yang bertanya-tanya, termasuk saya juga sih sebetulnya, kenapa yah air danau nya tetap jernih padahal nggak sedikit lho penduduk yang menggunakan air danau untuk mencuci, mandi, bahkan ada juga yang membuang kotoran manusia ke danau. Setiap hilir mudik banyak saya liat rumah makan kecil pinggir jalan yang toiletnya langsung mengalirkan air pembuangannya ke danau. Tapi kok air danau masih jernih aja nggak berubah buram karena sudah tercampur banyak kotoran ?

Anehnya lagi, setiap pagi dan sore air danau itu kita lihat arusnya tenang banget, layaknya seperti Danau kebanyakan. Tapi kalau siang hari air danau bergelombang kuat dan ada ombaknya, seperti di laut, serta airnya keruh banget, coklat-coklat milo gitu. Pemandangan berbeda ini saya lihat ketika saya pergi melewati daerah Ombilin menuju Candung. Memandang Danau Singkarak di Ombilin seperti melihat sisi lain dari Danau itu sendiri. Apa iya danau juga punya 2 sisi, sisi jahat dan sisi baik sama seperti manusia? Haha imajinasi aja itu mah. Mungkin danaunya lagi badmood. Pikiran bodoh saya muncul lagi.

Searching di google  dan akhirnya nemulah satu artikel yang membahas tentang perbedaan warna dan gelombang danau yang bikin saya penasaran itu. Jadi begini sodara-sodara, katanya kalau menurut ilmiahnya kenapa danau airnya yang keruh bisa kembali jernih, itu karena danau singkarak mempunyai banyak kerikil halus di dasar danau. Dan kerikil adalah salah satu bahan untuk menjernihkan air. Ingat tentang penyariangan air jernih nggak ? Ada kerikilnya juga kan ? Nah jadi batu kerikil di dasar danau inilah yang menjernihkan air danau dan semua kotorannya turun dan mengendap dibawah batu kerikilnya.

Beda lagi kalau menurut mitosnya, ceritanya sih pada pagi hari danau masih jernih dan tenang. Menjelang siang hari, danau mulai keruh dan bergelombang. Konon ketika menjelang Ashar gelombang akan semakin besar dan itulah waktunya para leluhur penghuni danau sedang bekerja membersihkan kotoran-kotoran yang ada di danau dengan membuat arus ombak dan setelah itu danau kembali bersih, jernih dan tenang kembali.

Mau percaya atau tidak, kembali kepada masing-masing orang. Intinya yang bisa kita tarik dari hal ini adalah mereka (antara warga dengan para leluhur penghuni singkarak yang sudah wafat)  harus saling membantu menjaga kebersihan tanah air mereka. Mereka melakukan tugasnya masing-masing agar keindahan Singkarak tetap terjaga dan tidak rusak. Ya sama halnya seperti saya kalo lagi di Bandung, sudah menjaga kebersihan dengan taat membuang sampah pada tempatnya, terus liat orang yang seenaknya mengotori dengan corat coret dan buang sampah sembarangan, apalagi setelah tau kalau dia adalah tamu alias bukan warga Bandung. Kan syebel.

Nah buat temen-temen yang berencana untuk travelling ke Sumatera Barat, jangan lupa buat kunjungin Danau Singkarak dan jangan sampe nggak berenang dulu daripada menyesal. Jangan lewatin kesempatan menikmati segarnya air danau Singkarak. Mau minum dulu airnya atau nggak sebelum berenang, itu sih terserah anda 🙂

Jagung Bakar Butet, murah meriah

Lebaran Idul Adha kemarin saya sepaket sama suami dan si kecil pergi jalan-jalan ke pantai. Tadinya sih cuma pengen liat ombak aja di Pantai Panjang. Suasana pantai ramai karena orang-orang pada libur sekolah dan bekerja. Keliling cari angin segar, tapi yang didapat adalah aroma kambing yang dibakar sate dan gulai. Hahaha namanya juga lagi Lebaran Kurban yah.
Dari ujung Pantai di Pasir Putih kita meluncur ke arah Pantai Zakat, terus putar balik lagi karena emang bingung kalau jalan tanpa tujuan. Ya emang kita tujuannya cuma keliling pantai aja cari angin aja, ya udah balik lagi aja deh karena untuk mengelilingi pantai nggak akan ada ujungnya. Kejauhan keles mana udah sore juga.
Sewaktu kita putar balik arah pulang, di belokan setelah Cafe Aloha, berderet kios jagung bakar. Liat matahari pas lagi sunset, indah banget dan sayang juga nih kalo dilewatin, akhirnya kita pun berhenti sejenak di salah satu kios jagung bakar, nama kiosnya Butet. Kita memesan 2 jagung bakar dan 1 es kelapa muda. Pemandangan indah, tapi sayang si kecil lagi tidur ya sudah kita nggak tega juga untuk bangunkan dia untuk sekedar bisa foto-foto. 
Taraaaaa !!! Pesanan sudah datang.

Gelap tapi merekah biji jagung bakarnya nampak jelas kan ??

Saat digigit, wawwww .. Pedes nya enak. Bumbu sambal jagungnya meresap dan  lekoh banget. Daging biji jagungnya juga besar-besar. Sambil makan, saling lirik sama suami,kayaknya mahal nih bisik saya dalam hati. Suami sepertinya mengerti kode saya soalnya dia juga mengangguk. Haha kaya yang betul aja yaa dia tau apa yang saya bilang dalam hati.
Terus aja sibuk sama pesanan, sampai lupa buat foto sunsetnya. Sadar pas hari udah gelap, baru deh foto-foto. Haha efek terhipnotis sama jagung bakarnya.

Si kecil baru bangun, jadi nggak mau ikut eksis dulu katanya 😀

Perut udah diisi dan matahari juga udah tenggelam. Yuk ah kita cus pulang. Suami bayar dulu pesenan dan tercengang. Saya tanya, abis berapa emang kok kaget gitu mukanya ? 

Dia bilang, “murah banget, cuma abis 20 rebu.”

Apaaaahh ??? Ceileh gaya sinetron gitu. Ternyata jagung bakar yang sambalnya enak itu cuma gocengan doank dan kelapa muda nya cuma 10 rebu. Padahal kita biasa beli jagung bakar pinggir pantai tu 7500 keatas dan kelapa muda 12.500 keatas. Wah ini sih paket hemat banget.

Kalau untuk review tempat ini, recommended banget. Selain harganya cocok buat pelajar dan mahasiswa, tempatnya juga bagus banget kalau untuk liat sunset. Matahari pas di depan kita dan pesisir pantainya nggak terlalu jauh nggak terlalu dekat juga. Yang pas inilah yang sempurna. 

Kita udah takut duluan dikira harganya bakalan lebih mahal dari biasanya, ternyata lebih murah. Ini sih kayaknya bakal jadi tempat singgah langganan kalau kita main ke Pantai Panjang. 

Buat temen-temen yang berencana mau main ke Pantai Panjang, jangan lupa mampir dan cobain jagung bakar disini. Nama kios nya Butet. Lokasinya kalau dari arah pasir putih itu sebelum belokan yang mau ke cafe aloha, kalau dari pantai zakat lokasinya setelah belokan.

Si bapak lagi eksekusi jagung bakarnya

Nah ini bapak pemilik warungnya. Orangnya juga ramah lho.

Ini plang kiosnya yaa ..

Cerita jalan-jalannya udah dulu ya udah malem juga. Kita istirahat yuks !

Besok kalau ada tempat yang recomended lagi, saya share lagi. Yang setia mau nunggu postingan saya, makasih banyak lhooo ..

Pesan : setelah baca ini, diharapkan jangan Baper alias “bawaannya laper” :))